Tiga hal yang harus anda Verifikasi benar sebelum anda dapat menerapkan analisa technical standar, atau apabila anda mau menerapkan analysis grafik menggunakan indikator-indikator, sebagai berikut :
1. High Liquidity
Likuiditas pada dasarnya adalah VOLUME. Ini berarti bahwa saham yang memiliki kemampuan untuk diperdagangkan dengan volume yang besar tanpa secara dramatis mempengaruhi harga. Misal, jika seseorang membeli saham WIKA atau ASII 100 ribu lembar hari ini, bahwa harga saham dengan sendirinya tidak terpengaruh dengan hal tersebut. Mengapa?, karena saham WIKA dan ASII sangat likuid dengan banyak pembeli dan penjual pada saat tertentu.
Likuiditas yang rendah adalah jebakan bagi investor pemula, sehingga mereka akan mudah mengalami kerugian. Bila anda membeli saham dengan likuiditas rendah, anda mungkin tidak akan mendapatkannya dengan harga yang anda inginkan karena tidak ada penjual pada harga itu. Broker harus menaikan harga secara signifikan sebelum pembeli dapat ditemukan. Demikian pula, ketika anda mau menjual saham dengan likuiditas rendah, broker perlu untuk menurunkan harga secara signifikan untuk menemukan penjual.
Selain itu, saham yang memiliki likuiditas rendah biasanya harganya rendah antara Rp. 50-Rp. 200 dan itu berarti bahwa harga dapat dimanipulasi oleh seseorang dengan volume yang rendah.
Tidak ada satupun yang saya sampaikan disini adalah "salah" dengan cara apapun. Hanya saja prinsip-prinsip teknikal analisis didasarkan (diasumsikan) bahwa hanya kekuatan pasar dengan pergerakan harga yang normal dan tidak bisa dimanipulasi.
2. No Artificial Price Changes
Serupa dengan alasan likuiditas yang tinggi, harga tidak dapat diubah dengan kekuatan lain selain oleh ketakutan dan keserakahan yang mendorong pasar. Kalopun ada yang mengubah harga saham dianggap "buatan" dan perlu di eliminated sebelum tenikal analisis standar dapat diterapkan.
Contohnya adalah, Stock Splits, dividen, dan distribusi adalah kejadian yang paling umum. Ketika saham stock split pelaku pasar tidak benar-benar peduli. Mereka mendapatkan dua kali lipat saham atau lebih. Namun, pertimbangan apa yang terjadi pada chart saham. Setelah split di dalam grafik terjadi gap down 50%. Ketika anda tidak tau tentang ajust harga split, anda akan sangat khawatir dengan saham tsb. Oleh karena itu, dampak dari perubahan harga "buatan" ini harus dihapus dari data sebelum teknikal analisis digunakan. Hal ini dilakukan dengan menyesuaikan semua data sehingga akan menghilangkan kesenjangan pada grafik.
3. No Extreme News
Analisi teknis tidak dapat memprediksi kejadian-kejadian ekstrim seperti misalnya seorang CEO perusahaan meninggal tiba-tiba, atau tragedi besar yang dapat menyebabkan harga saham turun drastis secara tiba-tiba. Ketika berita "ekstrim" terjadi, analis teknis harus menunggu dengan sabar sampai grafik menunjukan ada pembalikan harga dan mulai mencerminkan kondisi normal.
Sekali lagi, penting untuk dipahami bahwa saya tidak mengatakan bahwa grafik tidak berguna ketika satu atau lebih dari ketiga hal diatas terjadi. Namun, sinyal teknis standar dan prediksi tidak dapat secara akurat digunakan dalam situasi seperti itu.
Tetap Disiplin !!!






0 komentar:
Posting Komentar